Denpasar, BIG.com
Pameran retrospektif seni lukis kontemporer bertajuk “Parama Paraga: Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New Abstract” menghadirkan pembacaan menyeluruh atas perjalanan artistik perupa Wayan ‘’Kun’’ Adnyana selama kurang lebih dua dasawarsa. Bukan hanya menampilkan karya dari berbagai fase, retrospektif ini juga memperlihatkan dinamika cipta Kun Adnyana, dari bahasa rupa berbasis garis, pengolahan figur dan tubuh, berikut pembacaan atas simbol serta artefak Bali hingga abstraksi yang mengemuka dalam seri mutakhir ‘’Guwung Suwung’’ (sangkar sepi).

(BIG.com/ist)
Pameran yang berlangsung di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia Bali (ISI Bali) ini dibuka Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana pada Rabu (25/2/ 2026). Pameran digelar serangkaian Kalangan Widya Mahardika V, sebagai wahana pemanggungan karya mahasiswa dan dosen untuk menyapa publik dunia di ISI Bali. Secara khusus, dihadirkan pula pergelaran intermedium, memadukan teater tari, pertunjukan listrik, dan animasi dalam iringan gamelan-musik orkestra.
Tajuk “Parama Paraga” dipilih untuk menandai dua hal sekaligus, yakni capaian cipta dan dinamika kreatif seniman yang terus bergerak. Dalam pembacaan kuratorial, parama merujuk pada taraf kematangan atau puncak tertentu, sedangkan paraga menunjuk pada penjelajahan kreativitas dan upaya meraih kebaruan yang tiada henti.
Ekshibisi retrospektif ini menampilkan 88 karya terpilih Kun Adnyana yang berlangsung hingga 4 Mei 2026. Pameran ini didukung pula oleh Museum Seni Rudana, Ubud, Gianyar. Bertindak sebagai host pameran yakni Putu Supadma Rudana yang juga Ketua Asosiasi Museum Indonesia bersama Ketua Senat ISI Bali Prof. Dr. Ketut Muka Pendet.
Menurut kurator asal Korea Selatan, Jeon Dongsu, posisi Kun Adnyana penting bukan hanya karena produktivitasnya sebagai seniman, tetapi juga karena kemampuannya menjaga jarak dari pengulangan gaya yang mapan. “Kun Adnyana memperlihatkan bahwa seorang seniman tidak harus menetap pada formula yang sudah dikenali publik. Ia termasuk seniman yang memiliki keberanian untuk terus melakukan pencarian dan pembaruan dalam kerja artistiknya,” tegas Jeon.
Menurutnya, dalam diri Kun, kerja intelektual dan kerja artistik berjalan berdekatan. Itu yang membuat karya-karyanya punya lapisan pembacaan yang cukup kaya, tetapi tetap berangkat dari pengalaman visual yang konkret.
Jeon menilai pameran ini penting karena memperlihatkan bahwa perjalanan kreatif Kun Adnyana tidak berhenti pada satu wilayah estetik. Menurut CEO Art and Culture Magazine, Korea Selatan ini, yang mengemuka dalam retrospektif Kun Adnyana bukan sekadar urutan karya dari masa ke masa, tetapi cara perupa menjaga proses penciptaan tetap hidup. “Pada Kun, setiap capaian tidak berhenti sebagai hasil. Ia justru menjadi pijakan untuk bergerak lagi, menguji kemungkinan lain, dan membuka pembacaan, sekaligus tafsir baru atas proses ciptanya selama ini,” tegas Jeon, yang juga perintis Machari International Art Festival (MIAF) 2026 ini.
Sedangkan kurator pameran, Warih Wisatsana, berpandangan konteks tematik pameran ini juga terletak pada kemampuan Kun menautkan pengalaman visual, refleksi intelektual, dan penghayatan batin dalam satu lintasan yang utuh. Dari fase figuratif hingga abstraksi, benang merahnya bukan perubahan gaya semata, melainkan kesungguhan untuk terus menafsir ulang pengalaman hidup, sejarah, dan lingkungan kultural di sekitarnya. Karena itu, retrospektif ini layak dibaca sebagai medan untuk melihat etos cipta, bukan hanya variasi bentuk.
Retrospektif ‘Parama Paraga’ menjadi pameran tunggal ke-19 Kun Adnyana, termasuk di antaranya “Charma Dharma” (An Enigmatic Portrait on Contemporary Painting), di Dolina Charlotty Resort, Slupsk, Polandia ( tahun 2023); “Hulu Pulu: Five Years Exploration of Yeh Pulu Reliefs” di Agung Rai Museum of Art (Aarma), Ubud (tahun 2021); serta “Santarupa: A Revival of Narrative in Contemporary Art” di Thienny Lee Gallery, Sydney, Australia (tahun 2019).
Jejak penciptaan Kun dapat ditelusuri sejak tahun 2006, ketika dia menempuh studi magister di Yogyakarta. Menurut Kun, penemuan bahasa rupa berbasis garis lahir justru di tengah kesibukan akademik. Saat harus menyelesaikan karya tulis, dia tetap merasakan dorongan kuat untuk melukis, lalu menemukan medium tinta cina sebagai jalan yang memungkinkannya menulis sekaligus menggambar dalam ritme yang sama. “Di tengah pengerjaan karya tulis, saya tetap digoda keinginan untuk melukis. Dari situ saya menemukan kemungkinan bekerja dengan garis, sehingga menulis dan melukis bisa berjalan beriringan,” tegas Rektor ISI Bali ini.
Dari pengalaman itu lahir seri “Objek Tanpa Nama”, yang kemudian berkembang menjadi “Hana Tan Hana”, dengan bentuk-bentuk biomorfik dan organik yang disusun dari ribuan garis tipis berlapis. Bahasa rupa berbasis drawing menjadi fondasi penting dalam perjalanan karyanya, meski tema yang diolah terus berubah. Dari sana Kun bergerak ke seri venus, bayi, tubuh, potret, alam dan bayang-bayang, hingga eksplorasi panjang atas relief Yeh Pulu. Dalam setiap fase, garis tidak sekadar hadir sebagai teknik, melainkan sebagai perangkat utama untuk membangun bentuk, atmosfer, dan watak pengalaman visual.
Salah satu bagian penting dalam retrospektif ini adalah rangkaian karya berbasis riset atas relief Yeh Pulu. Dalam fase tersebut, Kun tidak memperlakukan relief sebagai warisan visual yang selesai, melainkan sebagai sumber yang bisa dibaca ulang dan diuji kembali secara kontemporer. Dari proses itu lahir berbagai pendekatan artistik seperti drawing, cutting, coloring, smashing, highlighting, layering, dan deconstructing, yang memperlihatkan bahwa praktik studionya berjalan beriringan dengan kerja konseptual yang disiplin.
Bagi Kun, pameran retrospektif ini tidak saja tentang pencapaian kekaryaan, melainkan mencakup kesungguhan menalarkan sekaligus mempertanyakan posisi konsep dalam cipta seni. Penjelajahan 20 tahun artistika garis merupakan kerja penghayatan atas segala renik, jelimet, serta kompleksitas eksperimen garis yang telah dilakukan.
Fase mutakhir dalam retrospektif ini ditandai kehadiran seri Guwung Suwung. Pada tahap ini, figur, simbol, dan narasi yang selama ini sering hadir dalam karya Kun mulai meluruh. Yang tampil justru lapisan warna, gestur, kikisan, dan jejak energi visual. Kanvas tidak lagi menjadi tempat menghadirkan sosok, tetapi medan tempat pengalaman dan penghayatan bekerja secara lebih bebas. Kun menyebut fase ini sebagai penemuan abstraksi baru yang mulai mengemuka sejak Nyepi, 29 Maret 2025. Dengan demikian ‘’Parama Paraga’’ tidak berhenti sebagai pameran yang merangkum karya-karya terbaik seorang seniman. Pameran ini juga memperlihatkan bahwa perjalanan kreatif adalah proses yang terus diuji, diperbarui, dan dipertanyakan kembali. Pada diri Kun Adnyana, seni tidak tumbuh dari pengulangan, melainkan dari kesediaan untuk terus bergerak. (01)



