Tangerang, BIG.com
Pegiat dan aktivis peduli sungai yang juga Ketua Komunitas Peduli Sungai Banksasuci Foundation, Ade Yunus, menolak keras wacana Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) untuk membangun rumah susun (rusun) di atas sungai.
Bukan tanpa alasan, Ade menegaskan bahwa ide menteri Ara tersebut bertentangan dengan undang-undang dan berisiko memperparah banjir. “Kami tentang, itu ide konyol (membangun rusun di atas sungai), jelas melanggar PP No.38 Tahun 2011 tentang sungai dan Permen PUPR No 28/PRT/M/2015 yang melarang pendirian bangunan permanen di sempadan dan badan sungai, apalagi di atas sungai,” ungkap Ade, Senin (31/8/2026).
Menurut Koordinator Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) tersebut, gagasan Ara menyesatkan dan berpotensi melemahkan semangat upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana banjir melalui normalisasi sungai. “Aliran sungai membutuhkan ruang untuk menampung debit air. Bangunan di atasnya dapat mempersempit aliran dan meningkatkan risiko banjir serta erosi, tidak sejalan dengan upaya normalisasi lingkungan dan mitigasi bencana,” tembah Ade.

PANTAU SUNGAI – Tim penyelamat lingkungan memantau kondisi sungai di Jakarta, sedangkan Menteri PKP Maruarar Sirait mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menyiapkan terobosan untuk mempercepat penyediaan hunian di tengah keterbatasan lahan.
(BIG.com/ist)
Untuk itu, Ade meminta agar Menteri PKP menghentikan gagasan dan kajian mengenai hunian di atas sungai, dan meminta untuk fokus melaksanakan program PKP membangun 3 juta rumah di atas lahan negara dan lahan sitaan. “Kan masih banyak lahan sitaan Kejaksaan Agung (Kejakgung), aset obligor BLBI, lahan kosong BUMN, hingga lahan tidur milik negara, ngapain (bangun) di atas sungai sih? Lagian PKP mendingan fokus juga memperbaiki rumah masyarakat yang tidak layak huni. Jangan menghabiskan energi membuat kajian dengan ide konyol tersebut, sampai kapan pun kami tolak dan kami tentang,” tegas Ade.
Sedangkan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menyiapkan terobosan untuk mempercepat penyediaan hunian di tengah keterbatasan lahan. Salah satu konsep yang sedang dipikirkannya adalah membangun hunian tiga hingga empat lantai menggunakan struktur baja di atas sungai atau kali.
Menurut Ara, konsep tersebut masih dalam tahap pengkajian, termasuk mengenai kebutuhan material, perhitungan biaya hingga regulasi yang diperlukan. “Bagaimana suatu saat ada terobosan misalnya mulai berpikir membangun rumah (susun) tiga atau empat lantai dengan baja. Tidak perlu lift tapi di atas sungai-sungai atau kali-kali. Doakan kami,” kata Ara, dalam suatu acara di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Jumat (28/8/2026) malam.
Ara menggarisbawahi ide tersebut muncul karena harga tanah yang semakin mahal. Kementerian PKP tengah menyiapkan tim untuk mengkaji sejumlah terobosan dalam penyediaan hunian. “Mungkin sekarang banyak yang bilang enggak mungkin, mungkin hari ini banyak yang bilang itu impossible, tapi doain karena tanah makin mahal. Saya lihat ada kali (sungai) banyak. Doain mudah-mudahan dua hingga tiga bulan lagi konsepnya saya bisa sampaikan ke publik,” tegas Ara.
Dia juga menjelaskan kajian itu akan mencakup perhitungan kebutuhan baja, biaya pembangunan hingga aspek regulasi. Pemerintah, lanjutnya, tentu akan mempertimbangkan penerimaan masyarakat dan pengembang terkait gagasan ini sebelum diterapkan secara penuh. “Kalau rakyat setuju, kalau hitungannya masuk, kalau pengembang oke, kita mainkan membangun rumah di atas (sungai). Saya tidak akan memaksakan,” tandas Ara. (02)


