ITS Kembangkan Sistem Kendali Otonom Modular pada Mobil Listrik

Surabaya, BIG.com

Tren mobil listrik di tengah kemajuan teknologi otomotif saat ini menjadi fenomena yang tak terelakkan, sebab menawarkan keunggulan ramah lingkungan serta biaya operasional dan perawatan yang lebih murah. Menariknya, di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat (AS), sudah ada jenis mobil listrik tanpa pengemudi atau otonom yakni robotaxi.

Perkembangan autonomous system tersebut juga dikembangkan oleh dosen Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Dr Rudy Dikairono, S.T., M.T., bersama tim. Rudy melihat tren global mengenai kendaraan dengan kemudi otonom akan menjadi kebutuhan masyarakat dunia pada masa depan.

UJI COBA – Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat ( belakang kiri) bersama Rektor ITS Prof. Dr. (HC) Bambang Pramujati, S.T., MSc.Eng., PhD. dan mahasiswa tim peneliti melakukan uji coba mobil otonom secara langsung.

(BIG/com.ist)

Rudy mengungkapkan bahwa saat ini fitur otonom banyak tersedia pada merk mobil kelas atas seperti Tesla dan BMW. Sedangkan pada mobil kelas mid-low, hanya pada fitur advanced driver assistance system (ADAS).

Dia memilih melakukan pengembangan pada salah satu jenis mobil listrik yang sudah beredar di Indonesia. “Untuk mobil yang sudah memiliki ADAS seperti ini, kami lakukan pergantian sistem dengan mematikan ADAS bawaan dari mobilnya,” tegas Rudy di Surabaya, Senin (27/7/2026).

Dengan demikian, pakar robotika dan sistem cerdas ITS ini mengungkapkan bahwa implementasi pada mobil listrik lebih mudah dalam integrasi sistem elektronik. Melalui sistem yang dikembangkan oleh tim ITS, tentu memungkinkan kendaraan untuk beroperasi dalam dua mode yakni manual maupun otonom.  “Kami ingin menghadirkan solusi otonom yang lebih inklusif dan terjangkau,” ungkap Manajer Senior STP ICT dan Robotika ITS tersebut.

Melalui sisi teknis, sistem otonom yang Rudy terapkan pada mobil listrik ini mengusung konsep modular dengan menambahkan berbagai sensor canggih. Hal itu mulai dari teknologi light detection and ranging (Lidar) yang merupakan sensor lazer untuk mengukur jarak, serta global positioning system (GPS) atau peta. Kombinasi tersebut membantu kendaraan dalam membaca kondisi lingkungan secara komprehensif.  “Sistem kami membuat mobil mampu mengenali lingkungan dan menentukan rute secara mandiri,” papar Rudy. Sistem cerdas navigasi juga dikembangkannya sehingga mobil mampu menentukan titik tujuan dan jalur perjalanan secara otomatis.

Mobil dapat menyesuaikan rute berdasarkan kondisi yang dihadapi di jalanan. Inovasi ini dinilai memiliki potensi besar untuk menarik minat industri otomotif dan teknologi. Uji coba sistem pada mobil listrik ini dilakukan di lingkungan Kampus ITS, Surabaya, dengan mempertimbangkan regulasi yang berlaku di Indonesia. Hasilnya, kendaraan mampu mendeteksi hambatan di depan dan merespons secara adaptif. “Kami terus meningkatkan aspek keamanan agar kendaraan semakin responsif terhadap kondisi jalan,” tutur Rudy.

Untuk depan, tambahnya, pengembangan difokuskan pada peningkatan kemampuan seperti manuver menyalip dan penyesuaian kecepatan otomatis. Tak hanya untuk mobil, sistem ini juga direncanakan untuk diterapkan pada sektor lain seperti pertanian dan industri.  “Kami terbuka untuk kolaborasi dengan industri agar inovasi ini bisa diimplementasikan lebih luas,” tandas Rudy.

Inovasi ini sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung sustainable development goals (SDGs), khususnya pada SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan teknologi sistem kendali otonom pada kendaraan. (02)

 

 

Berita Lainnya

Kumpulan berita lainnya terbaru