Usir Hama, Terangin ITS Manfaatkan Energi Angin dan Surya

Surabaya, BIG.com

Keresahan petani terhadap ancaman hama yang kerap memicu gagal panen melahirkan inovasi energi terbarukan dari mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Inovasi tersebut lahir dari potensi alam yang belum dimanfaatkan secara optimal yakni energi angin dan surya. Keduanya kini diwujudkan dalam bentuk turbin angin ramah lingkungan bernama Terang dan Angin (Terangin).

Chief Executive Officer (CEO) sekaligus Founder Terangin, Muhammad Hanif, menjelaskan bahwa inovasi ini awalnya lahir dari riset untuk kebutuhan kompetisi. Terinspirasi dari potensi angin di Kabupaten Nganjuk, yang dikenal sebagai kota angin, sekaligus sentra bawang merah di Jatim.  “Awalnya riset untuk lomba, tetapi ketika ada yang membutuhkan dan ingin membeli, kami sadar perlu mendirikan suatu PT (perusahaan) sebagai legalitas,” tegas Muhammad Hanif, di Surabaya, Selasa (5/5/2026).

TURBIN ANGIN – Turbin angin modular Terangin hasil rancangan tim mahasiswa ITS, Surabaya, yang dipasang di lahan pertanian di Jatim.

(BIG.com/ist)

Dalam pengembangannya, binaan PT Pertamina (Persero) ini menghadirkan pendekatan berbeda melalui sistem microgrid yang memanfaatkan energi angin dan surya untuk mengoperasikan lampu jebakan hama secara otomatis. Sistem ini dirancang sesederhana mungkin agar mudah dioperasikan petani, tanpa ketergantungan pada teknologi kompleks yang justru berpotensi menyulitkan di lapangan. Terobosan lain ditunjukkan melalui penggunaan pondasi modular non-permanen yang mampu menekan biaya hingga delapan kali lebih rendah dibanding pondasi beton.  Desain tersebut memungkinkan turbin dapat dibongkar pasang, sehingga fleksibel digunakan pada lahan sewa maupun saat petani ingin berpindah lokasi. Tidak hanya itu, tim Terangin merancang sistem rem otomatis yang diberi nama rem angin (remin) yang bekerja tanpa listrik maupun sensor.

Mekanisme ini memanfaatkan gaya dorong angin untuk memperlambat putaran turbin secara mandiri, sehingga lebih hemat energy, sekaligus minim kebutuhan perawatan. “Rem yang kami rancang tidak memerlukan listrik, lebih murah, dan sepenuhnya otomatis dibandingkan sistem lain yang membutuhkan pemantauan rutin,” ungkap Hanif.

Untuk menjawab tantangan perawatan di area pertanian yang luas, menurut mahasiswa yang biasa disapa Hanif ini, Terangin memanfaatkan teknologi drone sebagai sarana maintenance modern. Melalui pemantauan jarak jauh, tim dapat mengidentifikasi potensi kerusakan lebih dini sehingga perawatan menjadi lebih cepat, efisien, dan aman tanpa perlu membongkar struktur turbin.

Mahasiswa Departemen Teknik Mesin ITS angkatan 2024 tersebut menambahkan bahwa sistem yang dikembangkan mampu menghasilkan energi sebesar 2,1 kWh per hari. Energi tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk lampu jebakan hama, tetapi juga dapat digunakan untuk kebutuhan lain seperti irigasi dan sprinkler atau alat penyiram tanaman. “Penggunaan sistem ini memungkinkan petani mengurangi penggunaan pestisida secara signifikan sekaligus meningkatkan hasil panen,” jelasnya. Pemuda asal Kota Pahlawan ‘’Surabaya’’ tersebut menerangkan bahwa penggunaan Terangin dapat membantu petani menghemat hingga puluhan juta rupiah per hektare setiap musim tanam.

Selain itu, risiko gagal panen akibat serangan hama yang sebelumnya mencapai sekitar 50 persen dapat ditekan secara signifikan. “Pengurangan pestisida juga berdampak pada kesuburan tanah sehingga produksi meningkat,” tambah Hanif.

Dalam menggarap Terangin ini, dia dibantu empat anggota tim inti lain dari lintas disiplin yakni Rafi Pradana (Teknik Mesin), Diah Ayu Nur Fadillah (Statistika), Rafi S.Lamikan (Teknik Mesin), dan Anindya Khoirunnisya (Manajemen Bisnis). Selain itu, ada sejumlah anggota pendukung lainnya.

Berkat kerja keras tim tersebut, Terangin menorehkan prestasi di berbagai kompetisi nasional hingga internasional. Salah satu pencapaian terbarunya adalah Terangin berhasil masuk jajaran top 6 ‘’Fowler Global Innovation Challenge 2026’’ yang digelar di San Diego University, AS, sekaligus meraih hadiah senilai 3.000 dolar AS pada Sabtu (2/5/2026).

Untuk ke depan, Terangin juga berencana memperluas pemanfaatan energi angin ke wilayah pesisir. “Kami berharap inovasi ini dapat menjangkau lebih luas hingga tingkat internasional,” tegas Hanif, optimistis.

Tidak sekadar inovasi, bahkan Terangin kini berkembang menjadi startup yang mampu menghasilkan omzet hingga ratusan juta rupiah, baik dari jalur penjualan produk maupun hibah yang diterima tim.

“Perkembangan ini membuktikan bahwa inovasi kami tidak hanya berhenti di kompetisi, tetapi juga berdampak nyata,” tambahnya. Inovasi tersebut sekaligus menjadi bukti komitmen ITS dalam mendorong pengembangan teknologi berbasis riset yang bermanfaat bagi masyarakat.

Upaya tersebut sejalan dengan sustainable development goals (SDGs) antara lain pada poin ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau, poin ke-9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur, serta poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. (wil)

 

 

Berita Lainnya

Kumpulan berita lainnya terbaru