Oleh : I Nyoman Baskara
INDONESIA mempunyai sekitar 180 jenis bambu yang tersebar di berbagai daerah, termasuk Bali. Menurut Dr. Diah Kencana, yang lebih dari 35 menekuni dunia bambu, bahwa bambu tabah (gigantochloa nigrociliata base –kurz), yang banyak tumbuh di daerah Pupuan, Tabanan, Bali, merupakan salah bambu yang sangat istimewa.
Di mata ahli bambu yang mantan dosen pertanian Unud tersebut, selain mempunyai nilai ekologis sebagai tanaman konservasi tanah dan air, bambu menyimpan potensi ekonomi, sosial dan budaya serta potensi ilmiah yang besar. Berbagai bagian tanaman bambu, seperti rebung, batang, daun, dan akar, dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan, obat tradisional, biomaterial, bioenergi, biochar, karbon aktif, pupuk organik, hingga bahan baku industri hijau.

BIOPROSPEKSI BAMBU – Kegiatan bioprospeksi bambu tabah yang dilakukan mulai awal Juli hingga Desember 2026 di Kecamatan Pupuan Tabanan, Bali.
(BIG.com/ist)
Sebagian besar potensi tersebut, hingga kini belum terdokumentasi secara ilmiah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Informasi mengenai keragaman genetik, kandungan senyawa bioaktif, pemanfaatan tradisional, teknologi budidaya serta rantai nilai bambu masih terbatas.
Merespon kondisi tersebut, periset bambu tabah asal Blahbatuh, sejak setahun silam, mendirikan Bamboo Learning Center (BLC). Tentu saja dia menggandeng rekan ahli terkait lainnya. Penulis sendiri ikut menjadi bagian BLC, membidangi komunikasi publik dan kerjasama lembaga.
Program Bioprospeksi Bambu Tabah mempunyai sepuluh tujuan yaitu: A. Menginventarisir sebaran bambu tabah di daerah Pupuan Tabanan, B. Mendokumentasikan pengetahuan lokal tentang pemanfaatan bambu tabah, C. Mengindentifikasi potensi ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan, D. Melakukan karakterisasi morfologi, ekologi dan koleksi herbarium, E. Melakukan analisis lab. terhadap kandungan fitokimia dan senyawa bioaktif bambu tanah, F. Mengembangkan basis data bioprospeksi bambu tanah berbasis digital, G. Menyusun rekomendasi konservasi, budidaya dan pengelolaan sumber daya bambu tabah, H. Mendorong pengembangan produk inovasi dan hilirisasi penelitian, I. Mendukung peningkatan pendapatan masyarakat, dan J. Mendukung pencapaian pembangunan rendah karbon dan ekonomi hijau.
Bagi ahli bambu tabah ini, program bioprospeksi akan memberi banyak manfaat antara lain: mendukung konservasi keanekaragaman hayati, menjadi dasar pengembangan industri bambu nasional, meningkatkan ekonomi masyarakat, membangun kolaborasi antara pemerintah dan stakeholders lainnya, serta menjadi referensi ilmiah dalam pengembangan kebijakan pengelolaan bambu.
Karenanya, penulis yang juga Field Manager BLC mengharapkan ada atensi dan dukungan dari pemerintah. Perlu dipahami bahwa gerakan budidaya bambu di Bali amat perlu dukungan dan keterlibatan dunia kampus di berbagai level, serta stakeholders yang mempunyai kepedulian pada perbaikan kualitas lingkungan. Let’s save Bali. (*)

