Tim Ekspedisi Patriot ITS Ubah Limbah Jadi Energi

Surabaya, BIG.com

Mengoptimalkan limbah peternakan dan pertanian di kawasan transmigrasi Papua Barat, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan sistem biogas komunal untuk mengubah limbah menjadi sumber energi. Sistem tersebut tidak hanya mengubah limbah menjadi gas, tetapi juga pupuk yang bernilai ekonomi.

Program strategis yang diusung oleh Kementerian Transmigrasi ini mengirim tim dengan lima anggota yaitu Mochammad Fauzan Surya Earlyansyah, Ssi., Febriyati, S.Tr.T, Ayu Nur Lestari, S.Tr.T., M.T., Jinan Elvaretta Aqilah Setyabudi, S.Tr.T., Muhammad Sapriandi, S.P., yang dipimpin Dr. Ir. Arief Abdurrakhman, S.T., M.T.

Tim ini berangkat ke kawasan transmigrasi Momi Waren, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Kawasan transmigrasi ini memiliki limbah peternakan dan pertanian yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Untuk itu, tim ITS melakukan program yang akan mengembangkan teknologi untuk mengolah limbah menjadi bermanfaat. Program tersebut bertema ‘’Pengembangan Energi Terbarukan Berbasis Biogas dari Limbah Organik untuk Mendukung Kemandirian Energi dan Pertanian Berkelanjutan’’.

BANGUN REAKTOR – Pembangunan reaktor biogas tipe fixed dome oleh warga Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat.

 (BIG.com/ist)

Arief menjelaskan bahwa pengembangan teknologi ini berangkat dari persoalan utama yang dihadapi masyarakat setempat yakni pengelolaan limbah organik dan keterbatasan akses energi. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa sumber energi yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari seperti liquefied petroleum gas (LPG) hampir tidak tersedia. “Kami ingin menyelesaikan permasalahan tersebut dengan mengubah limbah menjadi sumber energi dan pupuk,” ungkapnya.

Karena itu, tim ITS membangun teknologi biodigester anaerob komunal yang dilengkapi dengan sistem distribusi, pemanfaatan biogas, dan monitoring proses. Teknologi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghasil gas, tetapi juga sebagai sistem energi yang dapat diukur, dipantau, dan dikendalikan secara berkelanjutan. Hal tersebut memungkinkan teknologi ini bisa terus dimanfaatkan secara mandiri oleh masyarakat.

Dosen Departemen Teknik Instrumentasi ITS tersebut menerangkan bahwa proses produksi biogas diawali dengan pengumpulan kotoran ternak dan limbah pertanian yang berlimpah di Momi Waren. Selanjutnya limbah tersebut dicampur dengan air dan diolah di dalam reaktor. Proses tersebut akhirnya menghasilkan biogas yang kemudian dialirkan melalui sistem perpipaan untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi masyarakat. Menariknya, teknologi ini tidak hanya menghasilkan energi, material yang tersisa berupa bio-slurry juga dapat diolah menjadi pupuk organik.

Melalui konsep tersebut, ITS membuat seluruh rantai proses pengolahan limbah mempunyai manfaat. “Dengan demikian, limbah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan mampu menjadi sumber energi dan pupuk yang memiliki manfaat ekonomi,” tegas Arief.

Selain mengembangkan teknologi, ITS juga melakukan pendampingan dan sosialisasi ke masyarakat setempat. Seluruh perangkat desa yang terlibat diajak memahami operasional dan pemeliharaan sistem yang telah dibangun. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi juga memahami cara mengoperasikan, merawat, dan menjaga keberlanjutan fasilitas secara mandiri. Untuk ke depan, program ini diharap menjadi model kemandirian energi dan ekonomi sirkular berbasis potensi lokal.

Arief menegaskan program ini akan berhasil jika masyarakatnya mampu memiliki dan mengelola sumber daya yang dimiliki dengan baik. “Kami ingin program ini membuat potensi lokal dapat dimanfaatkan dengan optimal dan benar-benar dimiliki dan dikelola masyarakat,” pungkasnya.

Inisiatif yang dilakukan oleh Tim Ekspedisi Patriot ITS ini mencerminkan komitmen ITS yang senantiasa mendukung tercapainya sustainable development goals (SDGs), khususnya pada poin ke-11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan melalui pembangunan kawasan transmigrasi yang mandiri dalam pengelolaan limbah dan energi. Selain itu, produksi biogas dan pupuk mendukung SDGs poin ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau. (02)

 

 

Berita Lainnya

Kumpulan berita lainnya terbaru