Pertamina Perlu Aksi Simpati pada Staf SPBU dan Konsumen BBM

Oleh: Nyoman Baskara (Ketua Yayasan Tamiang Bali Mandiri)

DIRUT PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri bersama Gubernur Bali Wayan Koster telah menyampaikan penjelasan ke publik mengenai penyebab kelangkaan BBM di Pulau Dewata.

Gubernur Koster menegaskan bahwa ketersediaan BBM harus diimbangi dengan kecepatan dan pemerataan distribusi agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Karena itu, dia meminta Pertamina terus mengoptimalkan penyaluran BBM, tidak hanya di Denpasar dan Badung, tetapi juga di wilayah Tabanan, Gianyar, serta daerah lain. Untuk mendukung kelancaran distribusi, Gubernur juga telah berkoordinasi dengan Polda Bali guna membantu pengawalan armada tangki BBM dari depo menuju SPBU.

TINJAU DEPO – Dirut PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri bersama Gubernur Bali Wayan Koster saat meninjau depo Pertamina di Sanggaran, Denpasar Selatan, untuk memastikan stok BBM untuk didistribusikan ke SPBU di Bali.

(BIG.com/ist)

Sedangkan Dirut Pertamina menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi terhadap masyarakat Bali. Dia lalu berjanji atau menjamin bahwa pasokan BBM segera normal. Konon stoknya aman hingga seminggu ke depan.

Simon  menambahkan bahwa pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk mempercepat pemulihan distribusi BBM di Bali. Dia juga mengungkapkan, kendala dalam proses sandar kapal pada 11 Oktober 2026 sempat memengaruhi kelancaran pasokan BBM. Meski demikian, Pertamina terus melakukan penambahan stok dan mempercepat pengiriman BBM ke SPBU. Menurut Simon, kondisi stok di SPBU secara bertahap menunjukkan peningkatan, meskipun masih terdapat sejumlah lokasi yang mengalami kekosongan.

Pemprov Bali bersama pemkab dan Pemkot Denpasar kemudian melakukan antisipasi antara lain menerapkan kebijakan work from home/WFH alias bekerja dari rumah.

RELA ANTRE – Warga yang rela antre berjam-jam. bahkan sampai menginap di SPBU, demi mendapat BBM sehingga lancar beraktivitas.

(BIG.com/doflank)

Kebijakan ini diikuti oleh kewajiban buka 24 jam bagi SPBU. Tujuannya tentu baik, yaitu memberi pelayanan yang lebih luas atau merata dan mencegah antre berkepanjangan. Bisa jadi hal ini belum diikuti oleh kesiapan manajemen dan staf di SPBU. Akibatnya, terjadi antrean berkepanjangan hingga berhari-hari, bahkan sampai sekarang. Sebagian besar warga, baik staf SPBU, driver pariwisata, ojol, serta dan konsumen BBM, akan mengalami trauma sehingga perlu waktu cukup lama untuk pulih kembali.

Kekisruhan pengelolaan BBM ini mengakibatkan sektor utama pendapatan Bali yakni pariwisawa tercoreng. Antrean mengular di setiap SPBU hingga beberapa ratus meter menjadi berita hangat stasiun berita, termasuk televisi, di seluruh dunia. Mereka bertanya-tanya kenapa Bali yang begitu tersohor di seantero jagat malah kehabisan BBM? Dimana dan siapa yang salah?

Untuk memulihkan citra pariwisata Bali ini tentu tidaklah mudah. Kasus kelangkaan BBM ini merupakan pertaruhan besar bagi Bali, dan sudah pasti mengganggu kunjungan wisatawan. Ujungnya, devisa untuk negara akan melorot tajam. Terlebih jika negara kompetitor mengkapitalisasi peristiwa tersebut untuk men-downgrade Bali. (*)

Berita Lainnya

Kumpulan berita lainnya terbaru