Peringati Tumpek Wayang, Gubernur Bali Sembahyang di Pura Er Jeruk

Gianyar, BIG.com

Gubernur Bali Wayan Koster sembahyang untuk memperingati rahina (hari) suci Tumpek Wayang di Pura Dang Khayangan Er Jeruk, Kabupaten Gianyar. Persembahyangan ini juga diikuti Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Bupati Klungkung I Made Satria, Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, Walikota Denpasar yang diwakili Asisten I Pemerintah Kota Denpasar serta Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemprov Bali.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Koster menyampaikan bahwa secara niskala, umat Hindu melaksanakan persembahyangan sebagai rasa syukur untuk memuliakan ajaran leluhur yang diwariskan ke krama Bali. Warisan itu berupa nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi yakni  Atma Kerthi (penyucian dan pemuliaan atman/jiwa); Segara Kerthi (penyucian dan pemuliaan laut dan pantai); Danu Kerthi (penyucian dan pemuliaan sumber air); Wana Kerthi (penyucian dan pemuliaan tumbuh-tumbuhan); Jana Kerthi (penyucian dan pemuliaan manusia); dan Jagat Kerthi (penyucian dan pemuliaan alam semesta).  ‘’Sebagai generasi penerus, penyelenggara pemerintahan dan komponen masyarakat, kita harus belajar dari leluhur. Mereka mampu membuat suatu konsep tatanan kehidupan yang dinamakan Sad Kerthi (enam sumber utama kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan krama Bali),’’ tegas Koster.

SEMBAHYANG BERSAMA – Gubernur Bali Wayan Koster bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Bupati Klungkung I Made Satria, Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, Walikota Denpasar yang diwakili Asisten I Pemerintah Kota Denpasar serta Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemprov Bali, sembahyang untuk memperingati rahina (hari) suci Tumpek Wayang di Pura Dang Khayangan Er Jeruk, Kabupaten Gianyar. 

Dia menambahkan nilai–nilai kearifan lokal Sad Kerthi merupakan suatu ajaran luar biasa. Ajaran ini membumi untuk menjalankan kehidupan agar survive secara berkelanjutan, dengan harus memelihara seluruh aspek yang ada di alam. ‘’Tanpa sumber kehidupan, kita tidak bisa hidup, seperti tanpa tumbuh-tumbuhan kita tidak bisa napas (tidak ada oksigen), tanpa laut mungkin tidak ada hujan. Tanpa sumber air, kita tidak bisa minum, tidak bisa mandi sampai beririgisasi (tidak bakal ada subak), dan lain sebagainya,’’ tambah Gubernur Bali.

Karenanya, umat manusia diberi ajaran untuk menjaga alam, supaya semuanya hidup. “Ini menurut titiang (saya), hanya ada di Bali. Ajaran Sad Kerthi sebagai ilmu kehidupan yang diwariskan oleh leluhur. Maka ajaran ini saya implementasikan dalam visi pembangunan Bali, dinamakan dengan Nangun Sat Kerthi Loka Bali dengan nilai Sad Kerthi ,” jelas Gubernur asal Desa Sembiran, Tejakula, Buleleng ini.

Visi ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’ dengan nilai–nilai kearifan lokal Sad Kerthi harus dijalankan dengan tertib, disiplin oleh bupati/walikota se-Bali bersama jajaran, supaya menjadi laku hidup bagi semuanya di Bali. Bukan sekadar hidup, tetapi hidup dengan tatanan. Tatanan bukan sekadar tatanan, tetapi tatanan untuk membangun suatu peradaban kehidupan, sehingga alam, manusia dan budaya-nya hidup survive , berkualitas, berkelanjutan untuk diwariskan ke generasi muda demi masa depan Bali. ‘’Itulah sebabnya titiang terus menghidupkan perayaan rahina Tumpek di Bali.  Kepada Kadis Pendidikan di sekolah – sekolah agar terus melestarikan nilai–nilai kearifan lokal Sad Kerthi dan perayaan rahina Tumpek . Ini modal dasar juga dalam membangun generasi muda yang menjadi bagian penentu masa depan peradaban Bali sesuai Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru (2025 – 2125),’’ ungkap Koster.

Menurut dia, Bali yang ditata, dibentuk kehidupannya oleh orang-orang suci para rsi, mpu, danghyang dan semua dengan menetapkan ajarannya, upakara-nya, serta tempat sucinya di seluruh Bali, menjadikan gumi Bali memiliki kesakralan dan tenget (angker). Karena itu umatg manusia tidak boleh berperilaku semena-mena. Pembangunan Bali harus dijalankan secara tertib dan konsisten secara bersama–sama untuk keberlangsungan masa depan. Dengan demikian terwujudlah ekosistem kehidupan yang sehat, bersih, berkualitas.

Mewujudkan ekosistem kehidupan yang sehat, bersih, berkualitas di Bali, juga harus mengimplementasikan sejumlah kebijakan seperti pengelolaan sampah berbasis sumber, pembatasan plastik sekali pakai, menerapkan energi bersih, transportasi ramah lingkungan, hingga pertanian organik sesuai Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun. Dalam konteks inilah, Gubernur Koster sepakat dengan bupati/walikota se-Bali, terutama Bupati Badung, Bupati Klungkung, Bupati Gianyar, dan Walikota Denpasar, untuk menetapkan Kawasan Rendah Emisi, yang meliputi Ubud di Kabupaten Gianyar, Kepulauan Nusa Penida di Kabupaten Klungkung, Nusa Dua dan Kuta di Kabupaten Badung, Sanur dan Kawasan Cagar Budaya Gajah Mada di Kota Denpasar. ‘’Keenam kawasan ini ditetapkan sebagai Rendah Emisi, karena merupakan tempat kerumunan pariwisata, agar harmoni dengan alam dan tidak merusak ekosistem kehidupan,’’ tandas Koster. (01)

Berita Lainnya

Kumpulan berita lainnya terbaru