Denpasar,BIG.com
Ketua DPD Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Bali Putri Suastini Koster menyampaikan bahwa saat ini pihaknya fokus melestarikan anggrek lokal Bali, khususnya pada sektor hulu, melalui upaya konservasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek asli Bali.
Dalam acara focus group discussion (FGD) ini, Putri Koster menggandeng Fakultas Pertanian Universitas Udayana (FP Unud), BKSDA Bali, BRIN, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dinas Pariwisata Provinsi Bali, serta BRIDA Provinsi Bali, untuk melakukan adaptasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek lokal Bali agar tetap lestari dan semakin diminati masyarakat.

PEMBICARA KUNCI – Ketua DPD Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Bali Putri Suastini Koster menjadi pembicara kunci dalam acara FGD mengenai plestarian anggrek lokal Bali, khususnya pada sektor hulu, melalui upaya konservasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek asli Bali, Rabu (9/9/2026).
(BIG.com/ist)
‘’Banyak sekali anggrek lokal Bali seperti anggrek linjong, dan anggrek vanda tricolor, yang dahulu banyak dijumpai di rumah-rumah masyarakat. Namun setelah berpuluh-puluh tahun, keberadaannya mulai berkurang, kurang diminati, dan perlahan ditinggalkan,” tegas Putri Koster.
Mengusung tajuk “Anggrek Kembali”, Putri Koster berharap anggrek lokal Bali kembali menjadi primadona di daerah asalnya sendiri. Untuk itu, dia menggandeng FP Unud menginisiasi langkah-langkah konservasi dan pengembangan anggrek lokal Bali yang lebih unggul sehingga semakin diminati masyarakat.
Dekan FP Unud I Putu Sudiarta menyampaikan bahwa sejumlah upaya yang dilakukan meliputi adaptasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek lokal Bali, perbanyakan massal dan pengembangan anggrek lokal Bali, serta pengembangan desa wisata anggrek di Dusun Dosang, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng.
Sudiarta memandang anggrek lokal Bali memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata yang memiliki keunikan tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Pulau Dewata. Dengan demikian, pengembangannya tidak hanya berorientasi pada pelestarian anggrek lokal Bali, tetapi juga diharap menjadi salah satu motor penggerak kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan dan berkeadilan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada menyampaikan bahwa anggrek merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi, estetika, dan budaya, sekaligus berpotensi sebagai sumber daya genetik untuk dikembangkan menjadi varietas unggul pada masa mendatang.
FGD tersebut membahas upaya identifikasi, karakterisasi, strategi konservasi, pelestarian, dan pengembangan anggrek lokal Bali. Kegiatan ini juga menjadi media pertukaran informasi dan gagasan antara akademisi, peneliti, pemerintah, serta pemangku kepentingan lainnya. FGD menghadirkan tiga narasumber yakni Aninda Retno Utami Wibowo dari BRIN, Made Dwi Jayanti dari BKSDA Bali, dan Dr. I Putu Sudana dari FF Unud.
FGD diharap tidak berhenti pada aspek penelitian semata, tetapi dapat ditindaklanjuti dalam bentuk program pengembangan yang konkret serta memberikan dampak luas terhadap peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Bali. (02)



