Di Tengah Gempuran Pariwisata, Bupati Tabanan Bertekad Pertahankan Sektor Pertanian  

Tabanan, BIG.com

Ketika sejumlah kabupaten/kota di Bali ramai-ramai mengembangkan pariwisata sebagai program andalan, Tabanan malah tetap bertahan dengan sektor pertanian. Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya pun tergelitik ketika mendapat pertanyaan kenapa Tabanan membanggakan pertanian, padahal sektor pariwisata sangat menjanjikan?

Dengan bangga Sanjaya mengatakan sesuai zoning RTRW bahwa hampir 75 persen wilayah Tabanan adalah pertanian. ‘’Kami tetap bertahan karena pertanian adalah sokoguru kehidupan masyarakat kami. Dengan pertanian yang menghasilan berbagai prosuk, apalagi bisa dipasarkan untuk sektor pariwisata tentu memberi value (tambahan) bagi para petani. Inilah yang kami jaga,’’ ungkap Sanjaya.

Terlebih Pemkab Tabanan mempunyai program unggulan di sektor petanian, pelestarian adat dan agama. Pihaknya terus mendampingi masyarakat di sektor tersebut sehingga dapat meringankan beban mereka di berbagai bidang kehidupan. Sedangkan pertanian dan pariwisata, menurut Sanjaya, tentu saling beririsan, berkolaborasi, dan sama-sama saling menguntungkan. Dia mencontohkan bahwa hotel atau restoran pasti memerlukan hasil-hasil pertanian dan peternakan untuk memenuhi konsumsi para tamu. Kalau sampai suatu daerah tak punya hasil pertanian dan perkebunan, kalangan hotel maupun restoran bisa kelimpungan. ‘’Pertanian dan pariwisata sejatinya bersinergi. Kami di Tabanan bersikukuh mempertahankan pertanian karena juga untuk memasok kebutuhan sektor pariwisata di Bali. Apalagi Pak Gubernur Bali sangat mendukung agar sektor pariwisata membali hasil pertanian lokal,’’ tambahnya.

Menurut Sanjaya, untuk menghindari lahan pertanian berubah menjadi akomodasi pariwisata, maka Pemkab Tabanan mempunyai zoning RTRW yang ketat. Pemerintah menetapkan zona-zona yang bisa dijadikan tempat wisata, di bagian lain juga tetap mempertahankan areal sawah yang dilindungi. ‘’Ini yang tetap kami jaga,’’ tegas politisi PDIP asal Dauhpala, Tabanan ini.

Dalam setiap turun merealisasikan  program Bupati Ngantor di Desa (Bungan Desa), Sanjata selalu menyampaikan agar warga Tabanan tetap bertani, karena aktivitasnya bisa dijadikan paket wisata seperti bercocok tanam maupun berkebun. Ternyata atraksi wisata bertani dan berkebun ini banyak menarik minat wisatawan. Sanjaya mencontohkan ketika petani membajak sawah atau memetik buah kopi, wisatawan sering ikut terlibat di dalamnya. Mereka ingin merasakan dan mendalami bahwa beratap beratnya menjadi petani saat mengolah lahan mereka hingga membuahkan hasil. ‘’Boleh di bilang bahwa pertanian adalah kehidupan, sedangkan pariwisata adalah bonusnya,’’ tegasnya Tabanan.

Untuk melindungi aktivitas para petani, Pemkab Tabanan memetakan sektor pertanian menjadi tiga yakni hulu, tengah, dan hilir. Menurut Sanjaya, bicara mengenai sektor pertanian, memang sejak dahulu sampai sekarang pasti berputar-putra pada hilirisasi. Hal itu karena begitu beratnya menjadi petani sekarang. Begitu selesai membajak sawah, petani mesti memikirkan pupuk, pestisida, hingga cuaca yang tidak bersahabat (ekstrem). ‘’Tidak mudah memang menjadi petani. Karenanya, sektor pertanian ini merupakan PR luar biasa bagi kita bersama,’’ ungkapnya.

Hal yang terberat, tambah Sanjaya, ketika petani memasuki musim panen, mereka justru kelimpungan untuk menjual padi. Mereka akhirnya cenderung tergantung dengan permainan kartel yakni pedagang perantara atau makelar atau pengijon yang bersekongkol untuk memonopoli pembelian hasil panen petani. Menghadapi situasi semacam itu, Pemkab Tabanan kemudian membuat regulasi berupa Perda Desa Presisi. Dalam kaitan ini pemerintah mengayomi petani agar produk pertanian mereka bermanfaat bagi kehidupan petani itu sendiri. Lewat program Bupati Ngantor di Desa (Bungandesa), Sanjaya menggali semua hal yang dihadapi para petani, baik di lahan basah maupun di lahan kering. Setiap desa dipresisi sehingga bergairah. Kalau eksistingnya sudah diketahui, maka Pemkab Tabanan memerintahkan perusahaan daerah agar menjalin kerjasama dengan setiap kepala desa melalui badan usaha milik desa (bumdes). ‘’Kalau kami tidak main di hilirisasi, maka petani akan dimainkan oleh para pengijon atau candakulak,’’ ungkap Bupati dua periode ini.

 


BERI PENJELASAN – Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya memberi penjelasan mengenai upaya kerasnya mempertahankan sektor pertanian agar Tabanan tetap menjadi lumbung beras Bali.
(BIG.com/dok)

 

Sanjaya menyebut hilirisasi yang diterapkan Pemkab Tabanan lebih pada pemberian ketetapan harga bagi para petani, sehingga mereka lebih bergairah. Ketika para petani panen, pemerintah hadir dengan memberi ketetapan harga tanpa harus didahului oleh pengijon maupun candakulak. ‘’Selanjutnya kami juga menjalin dengan bulog dan yang lain, sehingga petani semangat,’’ tambahnya.

Begitu juga mengenai holtikultura, Pemkab Tabanan selalu hadir.  Pihaknya menjalin kerjasama dengan 23 hotel berjaringan internasional untuk memanfaatkan hasil kebun petani seperti sayur-mayur dan buah-buahan. ‘’Kami atur mereka wajib membeli hasil petani lokal Bali,’’ tegasnya.

Mengenai program Bungan Desa pada tahun mendatang, Sanjaya menyebut tetap jalan atau berlanjut, karena banyak memberi manfaat bagi masyarakat Tabanan. Dari sebanyak 133 desa, pihaknya baru mendatangi (berkantor) 60-an desa, sehingga masih banyak desa yang mesti dia kunjungi. Respons para kepala desa atau perbekel di Tabanan untuk menyambut program Bungan Desa luar biasa. Mereka bahkan dengan sabar harus menunggu giliran agar dikunjungi Pak Bupati dan tim. Dampak Bungan Desa ini sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama ketika pelayanan yang dimiliki pemkab dibawa ke desa-desa seperti pelayanan KTP, KK, pajak, kesehatan, hingga samsat kendaraan bermotor. Dengan berkantor di desa, Sanjaya mengaku bahwa pihaknya dengan mudah mengetahui apa saja kebutuhan masyarakat di desa dengan cara mudah dan murah, sehingga kami tidak salah memberi bantuan. ‘’Seperti di Penebel yang merupakan basis pertanian, kami menyalurkan alat-alat pertanian sehingga mampu membantu para petani mengolah sawah mereka,’’ tegasnya.

Program ini diapresiasi karena inovasinya dalam menjawab solusi permasalahan desa. Bahkan beberapa daerah di Indonesia belajar secara khusus mengenai program ini untuk diterapkan di daerah mereka masing-masing. (yad)

 

 

Berita Lainnya

Kumpulan berita lainnya terbaru