Denpasar, BIG.com
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmen penuh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dalam mendukung Global Hindu Business Conference (GHBC) saat menjamu para delegasi pada gala dinner di Jaya Sabha, Denpasar, Jumat (10/7/2026).
Forum bisnis internasional tersebut dinilai menjadi momentum strategis untuk memperkuat jejaring ekonomi global umat Hindu, sekaligus memperkenalkan Bali sebagai pusat pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai dharma.
GHBC berlangsung pada 10–12 Juli 2026 di Kampus Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar dan diikuti sekitar 300 anggota delegasi dari delapan negara yakni India, Malaysia, Singapura, Nepal, Mauritius, Australia, Uni Emirat Arab (Dubai), serta Indonesia.
Dalam sambutannya, Gubernur Koster mengenang pengalamannya saat terlibat sebagai Wakil Sekretaris penyelenggaraan World Hindu Federation di Bali tahun 1992. Momen menyambut para delegasi internasional kala itu, menurutnya, menjadi kenangan yang membangkitkan semangat untuk kembali menerima keluarga besar Hindu dunia di Pulau Dewata. “Karena itu, saya menyambut dengan penuh sukacita para delegasi yang hadir pada Global Hindu Business Conference dan mengucapkan terima kasih karena Bali kembali dipercaya menjadi tuan rumah,” tegasnya.

JAMU DELEGASI – Gubernur Bali Wayan Koster saat menjamu para delegasi Global Hindu Business Conference (GHBC) pada gala dinner di Jaya Sabha, Denpasar, Jumat (10/7/2026).
(BIG.com/ist)
Gubernur Koster juga memaparkan berbagai potensi Bali, mulai dari kondisi kependudukan, budaya, ekonomi hingga arah pembangunan jangka panjang. Dia menegaskan bahwa Bali saat ini mendorong kebijakan kependudukan yang mendukung keberlanjutan masyarakat Bali, termasuk melalui anjuran memiliki hingga empat anak guna menjaga kelestarian identitas budaya, termasuk keberadaan nama tradisional Nyoman dan Ketut.
Menurut Koster, kekuatan utama Bali terletak pada budaya. Karena itu, desa adat harus tetap menjadi fondasi dalam menjaga kehidupan masyarakat, perekonomian, serta kelestarian alam. Pariwisata, budaya, dan ekonomi, katanya, harus berjalan secara seimbang agar Bali tetap memiliki daya saing di tingkat dunia.
Komitmen tersebut diperkuat melalui Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun (2025–2125) yang menitikberatkan pada pembangunan berkelanjutan melalui pelestarian budaya, peningkatan kualitas lingkungan, pengembangan energi bersih, infrastruktur, pendidikan, hingga penguatan kualitas sumber daya manusia. “Bali harus tetap eksis sepanjang zaman, bukan hanya ada, tetapi tetap memiliki identitas, berkualitas, dan mampu bersaing di tingkat global,” tegasnya.
Sedangkan Founder Hindu Global Entrepreneur Network, Dato Pardip K. Kukreja Watu, menyampaikan apresiasi ke Pemprov Bali atas dukungan terhadap penyelenggaraan GHBC 2026. Menurutnya, kehadiran delegasi dari delapan negara menjadi tonggak penting dalam membangun jejaring bisnis global umat Hindu. Dia menilai Bali merupakan contoh nyata bagaimana budaya, spiritualitas, kehidupan sosial, dan ekonomi mampu berjalan secara harmonis. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dunia justru menghadapi tantangan berupa krisis kesadaran, kesenjangan sosial, serta degradasi lingkungan. Karena itu, kolaborasi bisnis berbasis nilai-nilai Dharma dinilai menjadi semakin relevan.
Datu Pati Watu Greja juga mengungkapkan bahwa konferensi tersebut dihadiri sejumlah pelaku usaha dan investor internasional yang bergerak di berbagai sektor strategis, seperti energi terbarukan, kendaraan listrik, logistik, teknologi, quality assurance, wellness, hingga pariwisata. Menurutnya, para investor tersebut siap menjajaki peluang kerjasama dan investasi di Bali melalui kemitraan yang saling menguntungkan.
Ia berharap momentum GHBC 2026 menjadi awal lahirnya kolaborasi yang lebih luas antara Bali dan komunitas bisnis Hindu dunia, tidak hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia, pelestarian budaya, serta pembangunan yang berkelanjutan. (01)


