Oleh : Nyoman Baskara

BELAKANGAN ini kembali menghangat wacana Bali Quality Tourism. Dalam berbagai kesempatan, statemen pemerintah dan ketua asosiasi pariwisata Tanah Air mengamini wacana tersebut. Tak terkecuali Ketua PHRI Bali Prof. Dr. Ir. TJokorda Ardana Sukawati yang akrab dipanggil Cok Ace menyampaikan hal senada.
Menurut penulis, semestinya sejak dua dekade, pariwisata berkualitas itu direalisasi. Apalagi bagi Bali yang senantiasa menjadi destinasi favorit dunia. Pulau munggil namun sangat menarik karena faktor alam dan budayanya amat rentan terhadap aneka rupa gangguan yang disebabkan wisata massal (mass tourism).

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa tokoh Bali, sebagian besar berharap agar wacana kali ini benar benar diwujud-nyatakan. Terlalu berbahaya jika terus-menerus ditunda. Bali sudah ‘’sesak napas’’, karena keberatan beban. Daya dukung alam Bali, sudah cukup lama ringkih menahan beban kehidupan yang berlangsung di atasnya.
Bagaimana Bali harus memulai program pariwisata berkualitas itu? Apa saja parameter pariwisata berkualitas yang digunakan? Bagaimana pula road map, sehingga rencana dan program berjalan on the track? Komponen stakeholder mana saja yang dilibatkan?

Mengenai parameter pariwisata berkualitas, ada referensi yang harus jadi pedoman yakni:
- Parameter UNWTO quality tourism of destination. Bahwa kualitas suatu destinasi sebagai proses untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Dengan harga yang wajar, namun harus memenuhi faktor : a. safety and security, hygiene, c. accesbility, d. communication, infrastructure and public amenities, e. ethics, transparency and respect, f. Authenticity and harmony.
- Parameter kedua yaitu parameter GSTC atau global sustainable tourism council, yang meliputi empat pilar yaitu: a. susntainable management, b. sosioeconomic impacts, cultural impacts, d. environmental impacts.
- Ketiga: keterlibatan subak/pertanian. (*)

