Utsawa Dharma Gita XXXIII Beri Ruang Bagi Dharmawacana Bahasa Inggris

Denpasar, BIG.com

Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII tinggal menghitung hari. Mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma”, ajang seni dan sastra keagamaan Hindu ini, rencananya dilangsungkan pada 11 hingga 16 September 2026 yang dipusatkan di Art Center, Taman Budaya, Provinsi Bali di Denpasar.

UDG dijadwalkan dibuka Gubernur Bali Wayan Koster pada Jumat (11/9/2026). Selain menjadi ajang kompetisi, UDG XXXIII juga menjadi tahapan seleksi untuk menjaring duta terbaik Bali yang akan berlaga pada UDG tingkat nasional tahun 2027 di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Salah satu anggota Tim Kurator UDG XXXIII, Prof. Dr. I Made Surada, M.A., mengatakan bahwa tahun ini terdapat 11 bidang lomba dengan 37 kategori. Bidang yang dilombakan meliputi membaca sloka, palawakya, kakawin, kidung, nyanyian keagamaan Hindu, gaguritan, dharmawacana bahasa Bali, dharmawacana bahasa Inggris, menghafal sloka, dharmawiwada, dan dharmacarita. “UDG tahun 2026 ini untuk mencari juara I yang akan mewakili Provinsi Bali di tingkat nasional tahun 2027. Sebanyak 11 bidang lomba ini disesuaikan dengan UDG di tingkat nasional yang akan diadakan di Sulawesi Tengah,” tegas Prof. Surada di sela-sela rapat pleno di Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Selasa (8/9/2026).

KURATOR – Anggota Tim Kurator UDG XXXIII, Prof. Dr. I Made Surada, M.A., memberi keterangan kepada pers.

(BIG.com/ist)

Guru Besar UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Denpasar, ini menambahkan persiapan peserta dari sembilan kabupaten/kota di Bali telah dilakukan jauh hari. Pembinaan dilakukan oleh widyasaba sejak Juli 2026, termasuk mempersiapkan peserta pada 11 bidang yang dilombakan. Kesiapan tersebut juga terlihat dalam technical meeting yang diikuti oleh Dinas Kebudayaan kabupaten/kota, widyasaba, pembina, serta koordinator juri. Masing-masing daerah menyiapkan duta yang akan tampil membawa nama daerah mereka. “Widyasaba telah melakukan pembinaan sejak Juli 2026 untuk 11 bidang lomba di sembilan kabupaten/kota,” tegas Surada.

UDG Bali 2026 juga memberi ruang bagi dharmawacana bahasa Inggris. Menurut Prof. Surada, kehadiran kategori tersebut menjadi penting karena Bali merupakan destinasi pariwisata dunia. Penyampaian nilai-nilai adat, budaya, dan agama Hindu, tidak hanya membutuhkan bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Kemampuan menggunakan bahasa Inggris juga diperlukan agar pesan-pesan keagamaan dan kebudayaan Hindu Bali dapat disampaikan ke masyarakat internasional. “Dharmawacana bahasa Inggris juga untuk mendapat juara yang akan mewakili Bali. Di tingkat nasional juga ada dharmawacana bahasa Inggris dan bahasa Indonesia,” paparnya.

Untuk dharmawacana bahasa Indonesia, Bali memilih tidak melaksanakannya di tingkat provinsi. Bali tetap menggelar dharmawacana bahasa Bali sebagai bagian dari program penguatan dan pelestarian bahasa Bali.

Peserta yang menjadi juara akan mendapat pembinaan lanjutan sebelum mengikuti kompetisi nasional. Materi dharmawacana bahasa Bali akan disesuaikan dan disampaikan dalam bahasa Indonesia saat berlaga di tingkat nasional. “Bagi peserta yang menang nanti, materi dharmawacana bahasa Bali tersebut harus diubah ke dalam bahasa Indonesia ketika mengikuti tingkat nasional. Karena itu, akan ada pembinaan ulang,” jelasnya.

Di tengah persiapan tersebut, Prof. Surada menyoroti belum meratanya jumlah peserta yang dikirim oleh masing-masing kabupaten/kota. Tidak semua daerah mampu mengirim peserta secara lengkap pada seluruh bidang lomba. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan pendanaan. Kabupaten Badung menjadi satu-satunya daerah yang mengirim peserta secara lengkap untuk seluruh 11 bidang lomba. Sementara itu, beberapa daerah lain hanya mengirim peserta pada sebagian bidang. “Daerah yang paling minim mengirim peserta adalah Kabupaten Bangli dan Buleleng yang hanya mengirim tiga atau empat bidang saja,” imbuh Surada.

Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah. Dia berharap UDG ke depan dilakukan secara lebih serempak di seluruh kabupaten/kota, sebagaimana Bulan Bahasa Bali. “Kami rasa selama ini belum serempak sehingga jumlah peserta yang dikirim setiap daerah bervariasi. Daerah yang memiliki kemampuan pendanaan lebih besar, seperti Badung, mengirim peserta secara lengkap. Bahkan, sebelumnya mengadakan utsawa di tingkat kecamatan,” ungkap Surada.

Perkembangan UDG di sejumlah daerah menunjukkan semakin besarnya perhatian terhadap ajang tersebut. Prof. Surada menyebut beberapa provinsi mulai menggelar UDG secara mandiri untuk menjaring peserta terbaik sebelum tampil di tingkat nasional. Lampung, Sulawesi Tengah, hingga Jayapura, disebut telah melakukan pembinaan dan seleksi di daerah masing-masing dengan dukungan pemerintah daerah. “Lampung bahkan juga melaksanakan UDG di daerahnya untuk menjaring juara yang akan dikirim ke tingkat nasional. Bukan comot-comot seperti sebelumnya. Demikian pula Sulawesi Tengah dan Jayapura yang juga melaksanakan UDG. Mereka didanai daerah masing-masing,” ungkapnya.

Pada UDG tingkat nasional mendatang, sebanyak 38 provinsi diproyeksi mengikuti ajang tersebut. Kondisi ini membuat persaingan semakin terbuka dan menuntut Bali mempersiapkan duta-dutanya secara lebih serius. Bali selama ini menjadi salah satu barometer UDG, sekaligus dikenal memiliki tradisi prestasi yang kuat di tingkat nasional. Karena itu, UDG XXXIII tidak hanya menjadi panggung untuk mencari juara, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi Bali sebagai juara umum di tingkat nasional. (02)

 

Berita Lainnya

Kumpulan berita lainnya terbaru