Pakar ITS, Surabaya, Tekankan Kewaspadaan Gempa Susulan di NTT

Surabaya, BIG.com

Gempa bumi bermagnitudo 7,7 baru saja mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT),  serta di wilayah Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah dengan magnitudo di atas 6 dalam waktu yang berdekatan. Menanggapi hal tersebut, pakar seismologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Kadek Hendrawan Palgunadi, S.T., MSc., Ph.D., memperingatkan adanya ancaman gempa susulan hingga dua pekan ke depan.

Peneliti dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS tersebut menyampaikan bahwa secara alamiah, Indonesia terletak di atas zona tektonik yang kompleks dengan berbagai sesar aktif. Berada di jalur ring of fire menyebabkan gempa bumi kerap terjadi di wilayah Tanah Air secara beruntun. “Gempa bumi yang terjadi secara beruntun bisa juga terjadi secara kebetulan,” ungkap Kadek Hendrawan Palgunadi, di Surabaya, Selasa (18/8/2026).

JELASKAN AKTIVITAS SEISMIK – Pakar sismologi ITS, Surabaya, Kadek Hendrawan Palgunadi, menjelaskan tentang aktivitas seismik di Indonesia.

 (BIG.com/ist)

Menanggapi peristiwa terkini, dosen Departemen Teknik Geofisika ITS ini membeberkan bahwa gempa yang melanda NTT, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah, tersebut bersumber dari entitas tektonik dan sesar yang berbeda. Menurutnya, analisis cepat menunjukkan bahwa keterkaitan ketiga getaran tersebut memiliki probabilitas yang sangat kecil. “Gempa secara beruntun umumnya terpicu bila bersumber dari gempa megathrust dengan magnitudo lebih dari delapan,” terangnya.

Menilik gempa di NTT, Kadek menjelaskan bahwa daratan Flores hingga bagian utara Bali dilintasi sesar Flores Back-Arc Thrust. Pergerakan sesar aktif ini pernah memicu gempa dahsyat bermagnitudo 7,7 di Pulau Flores pada tahun 1992, serupa dengan gempa yang terjadi beberapa waktu lalu. “Seismolog-seismolog Indonesia sudah mengekspektasikan bahwa sesar tersebut bisa menghasilkan magnitudo maksimal mencapai 7,8,”  urai alumnus doktoral Geosains dari King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), Saudi Arabia ini.

Pascagempa, Kadek mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap ancaman gempa susulan atau aftershock. Gempa lanjutan ini timbul akibat aktivitas penyesuaian sesar-sesar kecil yang berada di sekitar patahan utama. Kadek menegaskan, kekuatan aftershock umumnya akan terus menurun seiring berjalannya waktu. “Jika diasumsikan gempa utamanya magnitudo 7,7 kemarin, secara statistik akan ada minimal tiga kali gempa magnitudo enam,” tegas pria asal Bali, kelahiran tahun 1993 tersebut.

Lebih lanjut lulusan master Geofisika dari Institute De Physique Du Globe, Prancis, ini mengimbau para relawan (tim evakuasi dan asesmen bangunan) serta masyarakat terdampak agar tetap siaga selama dua pekan ke depan. Kadek menekankan urgensi asesmen fisik guna menguji ketahanan struktur bangunan pascabencana. Warga disarankan menetap sementara di lokasi evakuasi yang aman bila kondisi hunian masih menunjukkan keretakan yang riskan.

Melalui respons kesiapsiagaan ini, ITS turut berkomitmen mendukung pencapaian sustainable development goals (SDGs). Poin yang didukung adalah poin ke-11 tentang kota dan komunitas yang berkelanjutan. Komitmen ini diwujudkan melalui edukasi mitigasi risiko untuk menciptakan permukiman yang tangguh terhadap ancaman gempa. (02)

 

 

Berita Lainnya

Kumpulan berita lainnya terbaru