Gubernur Bali Dorong ‘’Nusa Dua Eco Market’’ Jadi Ruang Ekonomi Hidup

Badung, BIG.com

Suasana kawasan Sidewalk Pulau Peninsula, The Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, terasa berbeda pada Sabtu (8/8/2026) petang. Di tengah kawasan pariwisata berkelas dunia itu, budaya, kreativitas, pelaku UMKM, komunitas, wisatawan, dan masyarakat, berbaur dalam satu ruang melalui BRIMo ‘’Nusa Dua Eco Market 2026’’.

Gubernur Bali Wayan Koster bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Direktur Operasi ITDC Troy Reza Waroka, serta Sub Brand Office Head Nusa Dua Risan Hanuraga, kompak menimbulkan alu ke lesung sebagai tanda membuka  secara resmi kegiatan yang berlangsung pada 8–9 Agustus 2026 di Peninsula, kawasan The Nusa Dua ini.

LIHAT PRODUK UMKM – Gubernur Bali Wayan Koster melihat dari dekat produk UMKM lokal yang dipamerkan dalam acara ‘’Nusa Dua Eco Market 2026’’ di kawasan Sidewalk Pulau Peninsula, The Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, pada Sabtu (8/8/2026) petang.

(BIG.com/ist)

Bagi Gubernur Koster, kegiatan tersebut bukan sekadar menghadirkan keramaian baru di kawasan pariwisata. Dia melihat ‘’Nusa Dua Eco Market’’ sebagai bentuk nyata kawasan pariwisata berinteraksi lebih dekat dengan wisatawan, sekaligus masyarakat lokal, khususnya masyarakat di kawasan Nusa Dua. “Ini sangat bagus. Ini cara ITDC berinteraksi dengan wisatawan dan masyarakat di kawasan ini, terutama masyarakat Desa Bualu, agar lebih ramah dengan masyarakat dan memberi wahana yang hidup bagi wisatawan yang ingin keluar dari kamar, ingin duduk-duduk di taman, mungkin juga perlu selingan seperti ini,” ungkap Koster.

Dia bahkan mendorong agar kegiatan semacam itu tidak berhenti pada penyelenggaraan kali ini. Menurutnya, ruang-ruang interaksi seperti ‘’Eco Market’’ penting untuk membuat kawasan wisata tetap hidup, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Gubernur Koster mencontohkan seorang wisatawan asal London yang dua pekan berada di Bali, malam itu keluar bersama anak-anaknya untuk menikmati kegiatan ‘’Nusa Dua Eco Market’’. “Dengan wahana begini bisa menolong UMKM yang merupakan basis dari ekonomi kerakyatan kita,” tegasnya.

Koster juga mengingatkan besarnya ketergantungan ekonomi Bali terhadap sektor pariwisata. Dia menyebut sekitar 66 persen ekonomi Bali bertumpu pada pariwisata. Karena itu, ekosistem pariwisata harus dijaga agar tetap aman, berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan. “Kontribusi besar ini harus kita jaga baik-baik. Karena itulah saya bekerja keras mengendalikan situasi di Bali agar tetap kondusif dan aman,” ungkapnya.

SAPA WISMAN – Gubernur Koster menyapa wisman yang mengunjungi ‘’Nusa Dua Eco Market 2026’’ di kawasan Sidewalk Pulau Peninsula, The Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, pada Sabtu (8/8/2026) petang.

(BIG.com/ist)

Menurut Koster, kondisi pariwisata Bali tahun 2026 menunjukkan perkembangan yang semakin berkualitas. Hingga 31 Juli 2026 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tumbuh sekitar 0,4 persen secara year on year, dengan rata-rata 22.000 hingga 24.000 wisatawan per hari. Sebaliknya, kunjungan wisatawan domestik (wisdom) mengalami penurunan sekitar 8 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Salah satu faktor yang disebut Koster yakni meningkatnya harga avtur yang berdampak pada kenaikan harga tiket pesawat menuju Pulau Dewata.

Namun di tengah penurunan wisdom tersebut, ada indikator yang cukup menggembirakan. Tingkat hunian hotel berizin justru meningkat, terutama hotel bintang lima dan bintang lima plus. Rata-rata tingkat hunian hotel berizin kini mencapai sekitar 90 persen, bahkan di kawasan ITDC lebih daripada 95 persen. “Jumlah wisatawannya turun, tapi tingkat hunian hotelnya naik,” tambahnya.

Kondisi itu, lanjut Gubernur Bali, juga tercermin dari meningkatnya penerimaan pajak hotel dan restoran (PHR) kabupaten/kota se-Bali. Hingga 31 Juli 2026, PHR mencapai sekitar Rp 4,1 triliun atau meningkat dibanding sekitar Rp 3,8 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Dari angka tersebut, Kabupaten Badung menyumbang sekitar Rp2,9 triliun atau sekitar 71 persen. “Badung lagi kerja keras untuk ngurusin Bali, terutama sekali di Badung, karena mengurus Badung sama dengan mengurus Bali,” tegas Koster.

Dia menilai ketika Badung mampu menjaga kawasan pariwisata tetap baik, dampaknya akan sangat besar terhadap perekonomian Bali secara keseluruhan. Di tengah sambutannya, Wayan Koster juga menyampaikan pesan khusus ke ITDC dan BRI agar ‘’Eco Market’’ tidak hanya menjadi etalase bagi UMKM, tetapi benar-benar memberi manfaat ekonomi langsung ke para pelaku usaha. Koster meminta agar produk UMKM yang dibawa ke ‘’Nusa Dua Eco Market’’ tidak berakhir kembali ke daerah asal karena tidak terjual. “Kalau tutup, jangan sampai ada barang yang dibawa pulang. Bapak tanggung jawab membeli semua. Nggak boleh ada yang dibawa pulang,” tambahnya.

Koster mencontohkan UMKM yang datang dari daerah yang cukup jauh seperti Jembrana. Menurutnya, tidak mudah bagi pelaku usaha membawa produk dalam jumlah banyak ke kawasan Nusa Dua jika pada akhirnya sebagian besar barang harus dibawa pulang.

“Dia (pemilik UMKM) datang ke sini, jadi bapak tanggung jawab. Ini awas ya, Pak Direktur ITDC sama BRI. Saya nggak mau tahu, barang ini nggak boleh balik lagi,” seloroh Koster, sehingga mengundang senyum para hadirin di lokasi.

Dia bahkan mengusulkan agar semangat tersebut dikembangkan menjadi gerakan “berbelanja dan berbagi”, yakni produk UMKM yang tersisa dibeli kemudian dibagikan ke masyarakat. “Bapak yang belanja, terus bapak bagikan ke masyarakat. Kan lebih bagus,” kata Wayan Koster.

Menurutnya, pola tersebut dapat menciptakan manfaat berlapis. UMKM mendapat kepastian pasar, masyarakat menerima manfaat, pun wisatawan dapat diberi suvenir atau produk lokal sebagai kenang-kenangan selama berkunjung ke Bali. “Jadi cara kita supaya hidup kita harmonis, sama-sama mendapat manfaat, sama-sama bahagia,” tegasnya.

Koster juga meminta agar kolaborasi serupa kembali digelar pada Desember 2026. Dia berharap ‘’Nusa Dua Eco Market’’ tidak berhenti sebagai agenda dua hari, melainkan menjadi ruang kolaborasi yang terus berkembang.

Direktur Operasi ITDC Troy Reza Waroka mengatakan ‘’BRI Nusa Dua Eco Market 2026’’ merupakan bagian dari program destination activation yang dikembangkan ITDC untuk memperkuat ekosistem ekonomi lokal, sekaligus memperkaya pengalaman wisatawan. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan 50 tenant UMKM dengan beragam produk kuliner, fesyen, dan produk kreatif lokal. Selain itu, terdapat berbagai kegiatan komunitas, seni, budaya, olahraga, workshop, yoga, zumba, talk show, kuis, tari nusantara, Bali Blasting Performance, Bali Shelter, Bali Safari Parade, hingga fashion show. “BRIMo Nusa Dua Eco Market merupakan salah satu program aktivasi kawasan yang diselenggarakan melalui kolaborasi ITDC bersama BRI sebagai upaya untuk menghadirkan pemberdayaan bagi UMKM, pelaku ekonomi, komunitas lokal, sekaligus memperkaya pengalaman berwisata di wilayah Nusa Dua,” tegas Troy.

Menurutnya, ITDC ingin menjadikan Nusa Dua bukan hanya sebagai kawasan akomodasi berkelas dunia, tetapi juga sebagai living destination yang hidup sepanjang tahun dengan menghadirkan budaya, kreativitas, olahraga, hiburan, dan aktivitas komunitas.

Sub Brand Office Head Nusa Dua Risan Hanuraga menyampaikan bahwa bagi BRI, kegiatan tersebut bukan sekadar festival atau pasar temporer, melainkan ruang untuk mempertemukan budaya, komunitas, UMKM, kreativitas, dan semangat keberlanjutan. “Kami percaya bahwa UMKM merupakan bagian penting dari kekuatan ekonomi Indonesia,” tegasnya.

Melalui kolaborasi dengan ITDC, BRI berharap para pelaku UMKM memiliki ruang yang lebih luas untuk memperkenalkan produk, membangun jejaring, dan menjangkau pasar yang lebih luas melalui ekosistem pariwisata Bali. (01)

 

Berita Lainnya

Kumpulan berita lainnya terbaru