Bedah Buku Rocky Gerung ‘’Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z’’ di Unmas Denpasar

Denpasar, BIG.com

Bedah buku karya akademisi, filsuf, pengamat politik, dan intelektual publik, Rocky Gerung, berjudul ‘’Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z’’ digelar di Auditorium Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar, pada Selasa (21/7/2026).

Saat itu hadir Gubernur Bali Wayan Koster beserta istri, Ni Putu Putri Suastini Koster, Dr. Airlangga Pribadi Kusman sebagai akademisi dan penulis buku sebagai narasumber, serta ratusan mahasiswa.

SERAHKAN BUKU – Rocky Gerung menyerahkan buku berjudul ‘’Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z’’ ke Gubernur Bali Wayan Koster dan Putri Koster saat bedah buku di Auditorium Universitas Mahasaraswati Denpasar, pada Selasa (21/7/2026).

(BIG.com/ist)

Dalam sambutannya, Gubernur Koster mengatakan bedah buku bukan sekadar agenda akademik, melainkan ruang pencarian makna untuk menjawab pertanyaan besar mengenai relevansi nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa bagi generasi Z yang tumbuh di era algoritma, media sosial (medsos), dan kecerdasan buatan. “Ini adalah forum pencarian makna. Suatu upaya kolektif untuk menemukan benang merah antara masa lalu yang kaya dengan pengalaman perjuangan dan masa depan yang penuh dengan berbagai kemungkinan baru,” tegas Koster.

Menurut dia, Marhaenisme lahir dari kegelisahan Bung Karno terhadap ketimpangan sosial dan menjadi ideologi kerakyatan yang tumbuh dari realitas masyarakat Indonesia. Kini, melalui buku karya Rocky Gerung, semangat Marhaenisme diajak untuk dimaknai kembali agar tetap relevan bagi generasi yang menghadapi tantangan zaman yang berbeda.

Gubernur Koster juga menepis anggapan bahwa generasi Z merupakan generasi yang apatis dan individualistis. Menurutnya, justru di tengah tantangan pandemi, krisis ekonomi, perubahan iklim, hingga derasnya arus informasi, banyak anak muda tetap menunjukkan kepedulian terhadap isu keadilan, kesetaraan, dan masa depan bangsa. “Kehadiran mahasiswa dalam forum bedah buku seperti ini merupakan bukti bahwa generasi muda masih memiliki semangat untuk berpikir, membaca, berdiskusi, dan mencari jawaban atas berbagai persoalan kebangsaan,” tegasnya.

Menurut Koster, forum akademik seperti bedah buku harus menjadi ruang latihan demokrasi yang sehat, di mana setiap gagasan diuji melalui argumentasi, bukan kemarahan, dan perbedaan pendapat dipandang sebagai kesempatan untuk saling belajar.

Lebih lanjut Gubernur Koster mengingatkan bahwa pembangunan Bali tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan nilai, budaya, moralitas, dan harmoni. Prinsip tersebut menjadi landasan visi ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru’’, yang bertujuan menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta seluruh isinya demi mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera dan bahagia, baik secara sekala maupun niskala.

Gubernur Koster menekankan bahwa Bali membutuhkan generasi muda bukan sebagai penonton pembangunan, melainkan sebagai subjek yang aktif merancang, membangun, dan merawat masa depan Bali. Namun, keterlibatan tersebut harus tetap berpijak pada kearifan lokal yang menjadi identitas Pulau Dewata.

Pada kesempatan tersebut, Ketua TP PKK Provinsi Bali Putri Suastini Koster turut memberi sentuhan budaya dengan membacakan puisi berjudul “Agustus” karya Yudhistira Massardi. Penampilan tersebut mendapat apresiasi dari para peserta dan semakin memperkaya suasana intelektual serta kebudayaan dalam rangkaian kegiatan bedah buku. (02)

 

 

Berita Lainnya

Kumpulan berita lainnya terbaru