Surabaya, BIG.com
Meningkatkan keselamatan para pekerja di sektor pertambangan, mahasiswa Teknik Elektro Universitas Widya Kartika (Uwika) Surabaya berinovasi lewat teknologi berupa smart helmet (helm pintar) berbasis internet of things (IoT). Inovasi sebagai respons terhadap tingginya risiko kecelakaan kerja di lingkungan tambang yang kerap dipengaruhi faktor lingkungan dan kondisi kesehatan pekerja.
Helm pintar tersebut dilengkapi berbagai sensor yang mampu memantau kondisi secara real-time, di antaranya sensor suhu LM135 untuk mendeteksi perubahan temperatur di sekitar pekerja. Berikutnya sensor gas beracun MQ-135 untuk mengidentifikasi gas berbahaya, serta sensor MAX30102 yang mampu memantau detak jantung dan kadar oksigen dalam darah (SpO₂). Dengan demikian, kondisi kesehatan pekerja dapat terus terpantau selama bekerja.

HELM PINTAR – Helm pintar ciptaan mahasiswa Teknik Elektro Universitas Widya Kartika (Uwika) Surabaya untuk meningkatkan keselamatan para pekerja di sektor pertambangan.
(BIG.com/ist)
Smart helmet ini juga dibekali sistem pelacakan lokasi berbasis GPS. Fiturnya memungkinkan untuk memantau posisi pekerja secara akurat yang dinilai penting dalam situasi darurat maupun untuk memastikan keselamatan di area kerja yang luas dan berisiko tinggi.
Dalam pengolahan data, sistem menggunakan metode fuzzy mamdani untuk menganalisis parameter sensor. Sistem mampu mengkategorikan kondisi pekerja dan lingkungan ke dalam dua status utama yaitu aman dan bahaya.
‘’Pendekatan ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih adaptif berdasarkan kombinasi indikator yang terdeteksi,’’ kata Mahasiswa Teknik Elektro Uwika, Regan Ardinata, didampingi dosen pembimbing 1, Dr. Ir. Tamaji, M.T., dan dosen pembimbing 2, Erwin Dhaniswara, S.Si., M.Kom., di Surabaya Kamis (23/4/2026).
Sebagai bentuk respons terhadap potensi bahaya, menurutnya, helm ini dilengkapi dengan fitur voice alert yang aktif otomatis ketika sistem mendeteksi kondisi berisiko. Informasi kondisi juga ditampilkan melalui layar LCD. Dengan begitu, para pekerja dapat langsung mengetahui status lingkungan dan kondisi tubuh masing-masing. Untuk mendukung pemantauan yang lebih luas, sistem ini terintegrasi dengan aplikasi berbasis IoT, yaitu Blynk.
Melalui aplikasi tersebut, data dapat diakses secara jarak jauh oleh pengawas atau manajemen, sehingga monitoring dapat dilakukan secara real-time tanpa harus berada di lokasi tambang. Pengembangan smart helmet ini diharap memberi kontribusi nyata dalam meningkatkan keselamatan kerja di sektor pertambangan.
Dengan kemampuan deteksi dini terhadap potensi bahaya, risiko kecelakaan kerja dapat diminimalisir. Selain itu, sistem monitoring yang terintegrasi memungkinkan pengambilan tindakan yang lebih cepat dan tepat ketika terjadi kondisi darurat.
Inovasi ini juga berpotensi dikembangkan di sektor industri lain yang memiliki tingkat risiko tinggi seperti konstruksi, manufaktur, maupun energi. Dengan penyesuaian tertentu, teknologi serupa dapat diterapkan untuk meningkatkan standar keselamatan kerja secara lebih luas.
Secara keseluruhan, pengembangan smart helmet berbasis IoT ini menunjukkan pemanfaatan teknologi dapat menjadi solusi konkret dalam menjawab tantangan keselamatan kerja. Inovasi yang menggabungkan sensor, sistem analisis cerdas, serta konektivitas digital ini diharapkan menjadi langkah awal menuju lingkungan kerja yang lebih aman, efisien, dan berbasis teknologi. (wil)
