Denpasar, BIG.com
Kinerja intermediasi perbankan (bank umum dan BPR) di Provinsi Bali pada Januari 2026 tetap tumbuh positif dan terjaga stabil sesuai yang tercermin dari pertumbuhan kredit dan dalam perhatian khusus (DPK).
Penyaluran kredit berdasarkan lokasi bank tumbuh positif sebesar 6,92 persen yoy menjadi Rp119,29 triliun (Januari 2025: 6,34 persen yoy, Desember 2025: 6,73 persen yoy). Sementara itu, penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek tumbuh 7,11 persen yoy menjadi Rp143,66 triliun (Januari 2025: 7,73 persen yoy, Desember 2025: 7,18 persen yoy). Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 3 OJK Provinsi Bali Ni Made Novi Susilowati saat mendampingi Kepala OJK Provinsi Bali Parjiman dalam acara Ngobrol Seru, Buka Bersama Update Berita (Ngorte) di Gedung OJK Bali, Jumat (10/4/2026) petang.
Novi menambahkan berdasarkan jenis penggunaannya, pertumbuhan kredit yoy masih didorong oleh peningkatan kredit investasi yang tumbuh sebesar Rp5,99 triliun atau 17,00 persen yoy (Januari 2025: 17,19 persen yoy, Desember 2025: 16,21 persen yoy), terutama ditopang sektor penyediaan akomodasi dan makan minum serta real estat. Tingginya pertumbuhan kredit investasi ini menggambarkan peran perbankan dalam pembiayaan ekspansi untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang di Provinsi Bali.

DAMPINGI KEPALA OJK – Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 3 OJK Provinsi Bali Ni Made Novi Susilowati (kiri) saat mendampingi Kepala OJK Provinsi Bali Parjiman dalam acara Ngobrol Seru, Buka Bersama Update Berita (Ngorte) di Gedung OJK Bali, Jumat (10/4/2026) petang.
(BIG.com/ist)
Lebih lanjut Novi menyebut kredit konsumsi tumbuh 4,75 persen yoy dan kredit modal kerja termoderasi -0,24 persen yoy. Sedangkan berdasarkan kategori debitur, sebesar 51,19 persen kredit di Provinsi Bali disalurkan ke UMKM dengan pertumbuhan positif sebesar 4,39 persen yoy (Januari 2025: 5,38 persen yoy, Desember 2025: 3,91 persen yoy). Penyaluran kredit UMKM di Bali ini masih lebih tinggi dibanding tingkat nasional, baik dari porsi kredit maupun pertumbuhan.
Jika ditinjau berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit didominasi sektor bukan lapangan usaha yakni sebesar 33,63 persen (tumbuh 4,75 persen yoy) dan sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 27,31 persen (tumbuh 1,81 persen yoy). Pertumbuhan kredit disumbang peningkatan nominal penyaluran di sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan-minum yang bertambah sebesar Rp2,21 triliun (tumbuh 17,02 persen yoy) dan sektor penerima kredit bukan lapangan usaha sebesar Rp1,82 triliun (tumbuh 4,75 persen yoy).
Sementara itu, penghimpunan DPK tetap tumbuh positif sebesar 6,66 persen yoy yakni mencapai Rp204,33 triliun (Januari 2025: 11,96 persen yoy, Desember 2025: 7,49 persen yoy). Berdasarkan jenisnya, peningkatan DPK ditopang kenaikan nominal tabungan sebesar Rp7,01 triliun. Fungsi intermediasi masih menunjukkan tingkat yang positif tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) posisi Januari 2026 sebesar 58,38 persen.
Kualitas kredit perbankan di Bali tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross sebesar 2,60 persen lebih rendah dibanding posisi yang sama tahun sebelumnya (Januari 2025: 3,14 persen, Desember 2025: 2,44 persen). Sedangkan NPL net berada di posisi 1,78 persen (Januari 2025: 2,18 persen, Desember 2025: 1,68 persen). Penyelesaian kredit restrukturisasi dan ekspansi kredit berdampak positif bagi penurunan rasio loan at risk (LaR) menjadi 9,17 persen (Januari 2025: 12,18 persen, Desember 2025: 9,12 persen).
Ketahanan BPR di Bali juga tetap kuat yang tercermin dari cash ratio (CR) dan capital adequacy ratio (CAR) terjaga di atas threshold, berturut-turut sebesar 15,17 persen dan 33,37 persen menjadi buffer mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi kondisi ketidakpastian global. (01/r)

