Denpasar, BIG.com
Sejumlah warga memprotes pemberlakuan pembelian BBM khusus jenis pertalite dengan aturan ganjil-genap. Hal itu, menurut mereka, merepotkan karena tidak memberi alternatif bagi warga untuk membeli BBM di tempat lain jika tangki kendaraan lagi kosong.
Ketut Aryana, warga Bangli, Senin (19/10/2026), mengaku pemberlakuan ganjil-genap itu aneh karena menyusahkan warga yang kebetulan kehabisan BBM saat kendaraan jalan. ‘’Jika begitu dimana warga bisa membeli BBM kalau kebetulan plat nopolnya ganjil saat giliran penerapan genap? Menuntun kendaraan atau biarkan saja di jalan?’’ tegas pria yang bekerja di sektor swasta ini.

TERTIB – Warga membeli BBM di SPBU dengan tertib tanpa harus menunggu pemberlakuan ganjil-genap.
(BIG.com/ist)
Dia menambahkan sebelum menerapkan pola ganjil-genap, pemerintah mestinya memikirkan dulu dampaknya bukan asal bikin aturan tiba-tiba. Dia memberi contoh pemberlakuan ganjil-genap untuk lalu lintas kendaraan memang bisa diterima akal sehat, karena warga yang melintas di jalan tertentu bisa mencari alternatif jalan lain. Sedangkan kalau pemberlakuan pembelian pertalite memakai ganjil-genap tentu tidak ada alternatifnya. ‘’Kalau kendaraan kehabisan pertalite di tengah jalan, biarkan saja karena ada pola ganjil genap dan menunggu 24 jam keesokan harinya? Ini peraturan aneh tanpa kajian,’’ ungkap Aryana, yang mengaku tak bepergian karena tak ada alternatif membeli pertalite.
Komang Aryani, pedagang makanan, menambahkan peraturan ganjil-genap tersebut memang tidak tepat untuk pembelian pertalite di SPBU-SPBU. ‘’Jika persediaan BBM cukup, kenapa mesti pakai ganjil-genap? Emangnya ada alternatif membeli BBM di kios-kios?’’ tegasnya kesal.
Menurut Aryani, pembelian pertalite tidak perlu berbelit-belit karena masyarakat membutuhkan BBM yang cepat, bukan malah menunda-nunda. Dia menambahkan jika pemberlakuan ganjil-genap itu diperpanjang, maka aktivitas masyarakat kembali terganggu hanya gara-gara menunggu mendapat BBM secara bergiliran selama 24 jam. ‘’Jika begitu, mending work from home saja seperti saat pandemi covid-19,’’ tandasnya.
Lain lagi pendapat Ketut Dana. Pria yang tinggal di Tabanan ini mengaku kesulitan membeli pertamax karena ikut antrean panjang membeli pertalite. ‘’Saya yang khusus membeli pertamax jadi ikutan antre dengan pembeli pertalite. Sampai di depan pengecoran, malah SPBU tidak jual pertamax,’’ tegasnya.
Dana berharap agar pemerintah menghentikan saja program ganjil-genap karena tidak cocok untuk pembelian BBM. ‘’Beda lagi kalau ada kios yang jual BBM, kita bisa cari alternatif di sana. Sekarang kan nggak ada kios BBM buka,’’ tandasnya kesal.
Sebelumnya ada warga yang lolos membeli pertalite walau saat itu pemberlakuan motor bernopol genap. Hal itu terjadi karena antrean di SPBU di Jalan Gatot Subroto barat itu kebetulan tak terlalu panjang. Saat minta izin kepada aparat yang jaga di sana, dia berkata,’’Silakan beli pertalite mumpung agak sepi. Tapi kalau ramai, saya tetap berlakukan ganjil-genap,’’ tegasnya
Untuk diketahui, Gubernur Bali Wayan Koster memperpanjang kebijakan pengaturan pembelian pertalite dengan sistem ganjil-genap hingga Jumat (23/10/2026). Kebijakan ini diambil untuk menjaga kelancaran distribusi BBM dan memastikan kondisi antrean di SPBU di tetap terkendali. Hal itu disampaikan Koster saatkonferensi pers bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Depot Pertamina Pesanggaran, Denpasar, Senin (19/10/2026). (01)


