Jakaarta, BIG.com
Rapat kerja dan rapat dengar pendapat Komisi V DPR RI bersama Menteri Perhubungan, Menteri Pekerjaan Umum, serta Gubernur Bali Wayan Koster, Rabu (8/4/2026), menegaskan posisi strategis Bali sebagai tulang punggung pariwisata nasional yang harus dijaga melalui percepatan pembangunan infrastruktur.
Gubernur Bali Wayan Koster dalam paparannya menyampaikan bahwa jumlah wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali tahun 2025 mencapai 7,05 juta alias tertinggi sepanjang sejarah. Sedangkan wisatawan domestik (wisdom) dan wisman mencapai sekitar 16,3 juta.

HADIRI RAKER – Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri rapat kerja (raker) dan rapat dengar pendapat Komisi V DPR RI bersama Menteri Perhubungan, Menteri Pekerjaan Umum, serta Gubernur Bali Wayan Koster, Rabu (8/4/2026).
(BIG.com/ist)
Menurut Koster, dengan kurs Rp16.500 per dolar AS, belanja wisman di Bali mencapai sekitar Rp176 triliun. Angka tersebut menyumbang lebih daripada separuh total devisa pariwisata nasional. “Ekonomi Bali sangat bergantung pada pariwisata, kontribusinya sekitar 66 persen terhadap PDRB. Karena itu infrastruktur dasar harus dipercepat agar Bali tidak mengalami penurunan kualitas,” tegasnya.
Koster juga memaparkan sejumlah persoalan mendesak, mulai dari abrasi pantai, kemacetan, krisis air bersih, persoalan sampah, hingga keterbatasan infrastruktur jalan dan pelabuhan. Koster mengusulkan percepatan pembangunan jalan underpass Jimbaran, jalan nasional Pesanggaran–Canggu, jalan wisata Klungkung–Karangasem, jalan lingkar Bali Utara, hingga pembangunan pelabuhan logistik di Karangasem dan Klungkung.
Menurut Koster, lonjakan kendaraan dari Jawa ke Bali saat musim libur dan hari raya kerap menyebabkan kemacetan parah akibat keterbatasan kapasitas pelabuhan penyeberangan. “Kami ingin ada alternatif penyeberangan dari Ketapang langsung ke wilayah Bali utara atau timur agar kepadatan tidak hanya menumpuk di satu titik,” tegasnya.
Sedangkan Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menegaskan bahwa Bali adalah aset nasional yang tidak boleh diabaikan. “Dari sekitar Rp176 triliun perputaran ekonomi wisman, lebih dari setengahnya berasal dari Bali. Kalau Bali tidak kita urus dengan baik, angka itu bisa menyusut drastis. Karena kelalaian kita, bukan tidak mungkin kita kehilangan potensi besar tersebut,” ungkapnya.
Lasarus menilai kebutuhan anggaran untuk menjaga Bali tetap kompetitif sebenarnya relatif kecil dibanding kontribusi yang diberikan. ‘’Untuk pengamanan pantai saja, Bali hanya perlu sekitar tiga triliun hingga empat triliun rupiah. Tidak cerdas kalau kita membiarkan potensi sebesar itu hilang hanya karena lalai mengurusnya,” tambah Lasarus.
Dia juga menyoroti persoalan aksesibilitas penerbangan domestik yang masih menyulitkan wisatawan. “Sekarang ke Bali terasa sulit, terutama untuk wisatawan domestik. Mencari tiket pesawat ke Bali susah, pergi susah, pulang juga susah. Ini harus menjadi perhatian bersama,” ungkapnya.
Rapat tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi pusat dan daerah dalam memastikan Bali tetap menjadi destinasi unggulan dunia, sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. (02/r)


